Kesalahan Logika: In Reality

Dulu, saya bisa dengan lugunya menertawakan senior yang kebetulan seprofesi, tapi akhirnya saya mengalaminya juga sekarang, dan hampir setiap hari terjadi. Hal-hal aneh yang disebabkan pikiran yang terlalu fokus pada sesuatu hal sampai mengesampingkan dunia nyata yang terjadi saat itu sehingga menimbulkan kekonyolan yang tidak perlu.

Saya sering berpendapat kalau orang akan semakin sama dengan bidang pekerjaan yang selalu digeluti setiap hari. Sesuatu hal yang paling banyak menyita pikiran seseorang dengan porsi yang lebih besar dari kehidupan 24 jam sehari dari kehidupan seseorang. Misalkan, para guru akan semakin menjadi pendidik dan menjaga sikap kesehariannya, bukan hanya di dalam kelas bersama muridnya, tapi dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah sebabnya mereka menjadi golongan yang dihormati, malah menjadi kelas atas dalam kehidupan pedesaan. Anggota dewan yang terhormat akan menjadi orang yang merasa dirinya harus dihormati oleh orang lain, bukan hanya di gedung dewan, tapi di lingkungan orang-orang yang memilihnya sebagai wakil mereka. Para preman akan mirip dengan pasar dan terminal yang keras dan kasar. Tetapi, yang paling parah adalah orang yang bidang pekerjaannya lebih banyak bukan dengan manusia. Yang selalu berhubungan dengan hewan, alat, atau mesin tertentu.

Yang mau diceritakan ini adalah orang yang selalu berhubungan dengan komputer. Yang mengawali hari kerjanya dengan komputer. Yang berliburan dengan komputer. Yang berinteraksi bahkan antar sesama manusia melalui komputer. Yang bahkan harus berbicara sehari-hari dengan bahasa mesin dan komputer, dalam arti yang sesungguhnya. Sebuah bahasa yang semuanya didasarkan pada logika, dengan mengenyampingkan perasaan. Bukan lagi orang lain, tapi diri sendiri dengan salah satu contoh saja.

Jumat, seperti hari biasanya, ke kantor. Cuma ada satu tambahan kegiatan yang berbeda, shalat Jumat. Berangkat pukul sebelas empat lima pulang pukul dua belas tiga puluh. Saya sendiri belum pernah mengalami sialnya kehilangan sandal di masjid sebelumnya, tapi sepertinya itu bukan hari yang biasa. Sandal yang selalu saya pakai ke masjid hilang, lenyap tanpa jejak. Berputar-putar sekitar situ, dalam lima menit belum juga kelihatan. Pasrah. Sampai seorang teman membantu mencarikanpun belum ketemu juga. Pasrah. Diapun menawarkan diri untuk mengambilkan sandal dari kantor supaya bisa saya pakai untuk kembali, dengan jarak yang bisa dicapai beberapa menit dari kantor. Ok. Dia pergi. Saya sendirian sambil merenung sejenak. Logikapun mulai berjalan untuk mengulang kembali kejadian saat berangkan ke masjid. Selesai. Akhirnya ketemu permasalahannya. Faktanya adalah sandal tidak ketemu. Alasannya, kalau sebelumnya yang terpikir adalah kemungkinan sudah diambil orang, padahal sebelumnya adalah saya berangkat bukan memakai sandal! tapi memakai sepatu. Hal yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Jadi selama ini pikiran saya mencari sandal, karena sugesti kebiasaan, yang pasti tidak akan ketemu, padahal yang saya bawa ke masjid adalah sepatu.

Sekali lagi, ini semua karena logika yang terlalu berperan. Sebuah kesalahan yang dalam pemrograman disebabkan kesalahan logika seperti ini:
If(Sandal == Ada)
Ketemu()
else
Hilang()

Padahal seharusnya saya melihat variabel lain, yaitu apa yang sebelumnya saya pakai. Jadi seharusnya:
YangDipake = Sepatu
If(YangDipake == Ada)
Ketemu()
else
Hilang()

Parah!
Hehe, cuma postingan ngawur ditengah malem kok….

2 Responses to “Kesalahan Logika: In Reality”

  1. mbahsomo Says:

    Rumah baru ya pren

    • om4gus Says:

      Hehe, udah lama sih, setahun yang lalu, pernah rame, Akhirnya diformat ulang dan ditinggalin karena terlalu banyak kenangannya. Sekarang harus merangkak dari nol buat ngisi ini lagi. Yang jelas disini buat belajar nulis banyak hal

Leave a Reply